Minggu, 25 September 2011

Atmosfer Bumi Hilang Lebih Cepat

By Republika Newsroom
Atmosfer Bumi Hilang Lebih Cepat    MANTEL PERISAI BUMI: Foto aurora di Antartika hasil pencitraan NASA. Pendar hijau terjadi ketika angin matahari berpartikel listrik menuju perisai magnet dan menghantam atmosfer Bumi
LOS ANGELES - Para periset dikejutkan dengan penemuan baru-baru ini jika Bumi kehilangan atmosfer lebih banyak dan lebih cepat ketimbang Venus dan Mars. Padahal bila dibandingkan, dua planet tersebut memiliki medan magnet tak seberapa, demikian seperti yang dilansir oleh Discovery.com.

Penemuan itu bisa jadi berarti, perisai magnetik bukanlah tabir pelindung solid seperti yang diyakini selama ini menjaga atmosfer dari serangan sinar matahari. "Kami selalu mengatakan pada diri sendiri kita sangat beruntung hidup di planet ini," ujar guru besar geofisika dan fisika angkasa luar di Universitas Kalifornia, Christoper Russel.

"Karena planet ini memiliki perisai magnet kuat yang melindungi kita dari segala macam hal yang dilemparkan kosmos, seperti sinar kosmis, panas matahari, angin matahari yang destruktif, dan banyak lagi," ujarnya.

"Perisai itu benar-benar membantu dalam bidang tersebut, namun dalam kasus atmosfer mungkin tidak sepenuhnya benar," imbuhnya. Christoper dan koleganya sampai pada kesimpulan tersebut dalam pertemuan Konferensi Planetologi Komparatif bulan lalu.

"Tiga dari kami yang meneliti Bumi, Venus dan Mars membawa data bersama dan membandingkan catatan hasil penelitian," ujar Christoper. "Kami berkata, ' Oh Tuhan--apa yang selama ini kita katakan pada orang tentang perisai magnetik ternyata salah,"

Pembawa masalah terbesar adalah arus partikel bermuatan listrik yang terlempar dari matahari, dikenal sebagai angin matahari.

"Interaksi angin matahari dengan Venus dan Mars sangat sederhana," ujar Christoper. "Angin datang, membawa medan magnet yang membungkus ionosfer planet. Ionosfer pun tertarik lepas," imbuhnya.

Sementara medan magnet Bumi berinteraksi dengan angi matahari, menarik energi yang tumpah ke atmosfer planet bersama sekaligus garis-garis medan magnet angin tersebut. "Angin harus mengalir mengitari halangan medan magnet besar tersebut dalam perjalanannya," ujar Christoper.

"Dua kutub pembuat medan magnet tidaklah bebas friksi," kata Christoper. Angin matahari itulah yang memicu Aurora, proses yang menyebabkan atmosfer Bumi memanas di daerah kutub di mana gas atmosferik dapat terlepas dari garis-garis medan magnet, yang kemudian di ambil oleh arus angin-matahari.

"Aurora adalah wujud nyata aktivitas magnet bumi, matahari berinteraksi dengan perisai medan magnet bumi dan menyebabkan berpendar," papar Scott Bailey, kolega Christoper dari Pusat Sains Luar Angkasa dan Rekayasa di Institut Politeknik Virginia.

Terlepas dari rata-rata kecepatan Bumi kehilangan atmosfer, yakni 5 x 1025 molekul per detik, para ahli mengatakan fenomena itu tidak menyebabkan peringatan bahaya. Jika rata-rata kehilangan konstan sama, atmosfer Bumi masih akan bertahan hingga lebih dari milyaran tahun.

"Hal utama kami mencoba memahami mengapa atmosfer Venus, Mars dan bumi bersikap berbeda ketika tipe planet hampir sama, dan bahkan kedua planet tidak memiliki medan magnet sekuat Bumi," ujar Christoper.

Christoper mempresentasikan risetnya pada konferensi Persatuan Geofisika Amerika pekan lalu. Ia dan kolegannya menulis laporan detail penelitian perbandingan kehilangan atmosfer di Bumi, Venus, dan Mars.

1 komentar:

  1. aditya ramadhana mengatakan...:

    ternyata kita terlalu enak akan diri sendiri sehingga tidak memikirkan keadaan sekitar kita.. haduhh.. :(

Posting Komentar