alam semesta kita menurut islam

Rabu, 05 Oktober 2011
 

Artinya : "Dan Kami tiup di dalam terompet. Itulah hari terlaksananya ancaman" (QS. Qaaf : 20)

Dalam dalam Surat Qaaf (50) ayat 20 di atas, ayat tentang tiupan terompet banyak terdapat dalam Al-Quran. Misalnya dalam Az-Zumar (39) ayat 68 :

"Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."

Lalu Surat Al-Kahfi (18) ayat 99 :

"Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya"

Atau Surat Yaasiin (36) ayat 51 :

"Dan ditiuplah sangkakala, Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka".

Dalam semua kitab tafsir, tiupan sangkakala/terompet di ayat-ayat tadi selalu diartikan sebagai peristiwa di hari kiamat. Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam Tafsir Al Wasith menguraikan bahwa tiupan terompet di hari kiamat itu tiga kali. Pertama, tiupan yang menggentarkan, lalu kedua yang mematikan seketika seluruh makhluk. Tiupan ketiga tanda mulainya hari kiamat, di mana semua dibangkitkan dan dikumpulkan.

Ada hadits yang menarik, Abu Hurairah ra. menyebutkan bahwa as-shuur, terompet, dalam ayat tadi berbentuk tanduk besar, yang ditiup tiga kali di hari kiamat. Kemudian dalam kitab Al Mufradat karangan Raghib al Isfahany, as-shuur bisa juga berarti gambar atau mantra.

Kalau kita cermati, Al Quran menyebutkan bahwa tiupan itu selalu "di dalam" terompet, wanufikha fi-shshuuri. Mengapa terompet? Mengapa di dalam?

Frank Steiner, ilmuwan University of Ulm Germany, mengamati pola titik-titik panas dan dingin radiasi microwave kosmik, yang bisa menggambarkan bentuk alam semesta 380.000 tahun setelah Big Bang. Projek Wilkinson Microwave Anisotropy Probe dari NASA membuat peta titik-titik tadi secara mendetail pada 2003. Hasilnya ialah pola itu cenderung memudar, yakni tidak ada titik panas dan dingin yang tampak melebihi jarak rentang 60 derajat. Ini menyimpulkan bahwa ketika mengembang, alam semesta terulur panjang. Sempit di awal dan kemudian makin lebar seperti corong. Mirip bentuk terompet abad pertengahan. Subhaanallah, selama ini bentuk alam semesta dianggap seperti bola yang mengembang ke segala arah.

Akhirnya, Frank Steiner dan kelompoknya yakin bahwa alam semesta bukanlah berbentuk bola, tetapi berbentuk terompet. Alam semesta bukan meluas tak terbatas tetapi dibatasi oleh ujung terompet. Jadi, alam ada awal dan akhirnya. Allaahu Akbar. Hanya Allah yang tidak berawal dan berakhir, "Huwal awwalu wal akhiru". Ketika seseorang menjelajah terus ke ujung alam, yakni ke bibir terompet, dia akan membalik ke sisi seberang dan kembali ke awal.


Barangkali itu makna firman Allah tentang hari kiamat, Kami tiup di dalam terompet, yakni kelak ditiupkan getaran dahsyat yang mematikan di dalam alam semesta yang bentuknya terompet tadi. Maka matilah semuanya. Lalu di dalam terompet tadi ditiupkan getaran yang menghidupkan lagi. Wallaahu a'lam
Minggu, 25 September 2011

Atmosfer Bumi Hilang Lebih Cepat

By Republika Newsroom
Atmosfer Bumi Hilang Lebih Cepat    MANTEL PERISAI BUMI: Foto aurora di Antartika hasil pencitraan NASA. Pendar hijau terjadi ketika angin matahari berpartikel listrik menuju perisai magnet dan menghantam atmosfer Bumi
LOS ANGELES - Para periset dikejutkan dengan penemuan baru-baru ini jika Bumi kehilangan atmosfer lebih banyak dan lebih cepat ketimbang Venus dan Mars. Padahal bila dibandingkan, dua planet tersebut memiliki medan magnet tak seberapa, demikian seperti yang dilansir oleh Discovery.com.

Penemuan itu bisa jadi berarti, perisai magnetik bukanlah tabir pelindung solid seperti yang diyakini selama ini menjaga atmosfer dari serangan sinar matahari. "Kami selalu mengatakan pada diri sendiri kita sangat beruntung hidup di planet ini," ujar guru besar geofisika dan fisika angkasa luar di Universitas Kalifornia, Christoper Russel.

"Karena planet ini memiliki perisai magnet kuat yang melindungi kita dari segala macam hal yang dilemparkan kosmos, seperti sinar kosmis, panas matahari, angin matahari yang destruktif, dan banyak lagi," ujarnya.

"Perisai itu benar-benar membantu dalam bidang tersebut, namun dalam kasus atmosfer mungkin tidak sepenuhnya benar," imbuhnya. Christoper dan koleganya sampai pada kesimpulan tersebut dalam pertemuan Konferensi Planetologi Komparatif bulan lalu.

"Tiga dari kami yang meneliti Bumi, Venus dan Mars membawa data bersama dan membandingkan catatan hasil penelitian," ujar Christoper. "Kami berkata, ' Oh Tuhan--apa yang selama ini kita katakan pada orang tentang perisai magnetik ternyata salah,"

Pembawa masalah terbesar adalah arus partikel bermuatan listrik yang terlempar dari matahari, dikenal sebagai angin matahari.

"Interaksi angin matahari dengan Venus dan Mars sangat sederhana," ujar Christoper. "Angin datang, membawa medan magnet yang membungkus ionosfer planet. Ionosfer pun tertarik lepas," imbuhnya.

Sementara medan magnet Bumi berinteraksi dengan angi matahari, menarik energi yang tumpah ke atmosfer planet bersama sekaligus garis-garis medan magnet angin tersebut. "Angin harus mengalir mengitari halangan medan magnet besar tersebut dalam perjalanannya," ujar Christoper.

"Dua kutub pembuat medan magnet tidaklah bebas friksi," kata Christoper. Angin matahari itulah yang memicu Aurora, proses yang menyebabkan atmosfer Bumi memanas di daerah kutub di mana gas atmosferik dapat terlepas dari garis-garis medan magnet, yang kemudian di ambil oleh arus angin-matahari.

"Aurora adalah wujud nyata aktivitas magnet bumi, matahari berinteraksi dengan perisai medan magnet bumi dan menyebabkan berpendar," papar Scott Bailey, kolega Christoper dari Pusat Sains Luar Angkasa dan Rekayasa di Institut Politeknik Virginia.

Terlepas dari rata-rata kecepatan Bumi kehilangan atmosfer, yakni 5 x 1025 molekul per detik, para ahli mengatakan fenomena itu tidak menyebabkan peringatan bahaya. Jika rata-rata kehilangan konstan sama, atmosfer Bumi masih akan bertahan hingga lebih dari milyaran tahun.

"Hal utama kami mencoba memahami mengapa atmosfer Venus, Mars dan bumi bersikap berbeda ketika tipe planet hampir sama, dan bahkan kedua planet tidak memiliki medan magnet sekuat Bumi," ujar Christoper.

Christoper mempresentasikan risetnya pada konferensi Persatuan Geofisika Amerika pekan lalu. Ia dan kolegannya menulis laporan detail penelitian perbandingan kehilangan atmosfer di Bumi, Venus, dan Mars.

global warming n the inner of core earth

GLOBAL warming mengancam pergerakkan rotasi dalam the core of earth..
Pemanasan global atau Global Warming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

 
The inner core of the Earth, its innermost hottest part as detected by seismological studies, is a primarily solid ball about 1,220 km (760 mi) in radius,[1] or about 70% that of the Moon. It is believed to consist of an ironnickel alloy, and may have a temperature similar to the Sun's surface, approximately 5778 K (5505 °C).[2]

Discovery

The existence of an inner core distinct from the liquid outer core was discovered in 1936 by seismologist Inge Lehmann[3] using observations of earthquake-generated seismic waves that partly reflect from its boundary and can be detected by sensitive seismographs on the Earth's surface. This boundary is referred as Bullen discontinuity[4] or sometimes Lehmann discontinuity.[5] Later (1940) it was conjectured that this inner core was solid iron, and its rigidity was confirmed in 1971.[6]
The outer core was believed to be liquid due to its inability to transmit elastic shear waves; only compressional waves are observed to pass through it.[7] The solidity of the inner core has been difficult to establish because the elastic shear waves that are expected to pass through it are very weak and difficult to detect. Dziewonski and Gilbert established the consistency of this hypothesis using normal modes of vibration of Earth caused by large earthquakes.[8] Recent claims of detections of inner core transmitted shear waves were initially controversial but are now gaining acceptance.[9]

Composition

Based on the abundance of chemical elements in the solar system, the theory of planetary formation, and other chemical constraints regarding the remainder of Earth's volume, the inner core is composed primarily of a nickel–iron alloy referred to as Nife: 'Ni' for nickel, and 'Fe' for ferrum or iron.[10] Because the inner core is more dense (12.8 ~ 13.1)gcm³[11] than pure iron or nickel, even under heavy pressures, it's believed that the remaining part of the core is composed of gold, platinum and other siderophile elements in quantity enough to coat Earth's surface for 0.45 m (1.5 feet).[12] The relative abundance of precious metals and other heavy elements respect to Earth's crust is explained with the theory of iron catastrophe, an event occured before the first eon during the accretion of early Earth.
Rabu, 21 September 2011

5G iPod Touch akan Tiba September Terlambat ke Awal Oktober

Tampaknya setelah berbulan-bulan spekulasi kami akhirnya tiba di sebuah kerangka waktu yang definitif untuk kedatangan 5G iPod touch. Ahli sekarang mengatakan mereka percaya 5G iPod Touch akan berada di sini sebelum akhir bulan yang berarti kita harus mendapatkan rilis resmi dari Apple kapan saja dalam minggu depan atau lebih. Sebagian besar spekulasi ini tiba setelah harga model gen 4 dijatuhkan selama seminggu terakhir untuk paling mungkin untuk membuat ruang bagi 5G iPod Touch 3G baru diaktifkan. Ini juga akan menjadi pertama kalinya iPod Touch dilepaskan menjelang 5 iPhone yang harus membuat angka penjualan yang menarik untuk kedua perangkat.

Sumber lain Amerika Apple iPod Touch Bekerja pada 3G Generasi 5

  Dengan berita tentang 5G iPod Touch menjadi sangat lambat seperti berita baik datang hari akhir tentang pemutar musik Apel. 5G iPod Touch akan berisi koneksi nirkabel 3G menurut AppleNapps . Klaim datang dengan tanggal rilis diharapkan dari September yang sangat terlambat untuk awal Oktober. Jika kemampuan 3G adalah dalam bekerja untuk 5G iPod Touch maka Apple adalah pengujian yang paling mungkin keluar rencana dengan pasangan saat ini operator seperti AT & T dan Verizon. Sumber untuk AppleNapps juga mengklaim bahwa Apple berniat untuk membuat pengumuman perangkat di akhir September.





for video : http://www.youtube.com/watch?v=VYnYQ4FDqgo&feature=player_embedded
SAMSUNG MONTE
General 2G Network GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
3G Network HSDPA 900 / 2100
Announced 2010, February
Status Available. Released 2010, March
Size Dimensions 108.8 x 53.7 x 12.4 mm
Weight 92 g
Display Type TFT capacitive touchscreen, 256K colors
Size 240 x 400 pixels, 3.0 inches (~155 ppi pixel density)
 - Accelerometer sensor for UI auto-rotate
- TouchWiz UI 2.0 Plus
- Turn to mute
- Smart unlock
Sound Alert types Vibration, MP3 ringtones
Loudspeaker Yes
3.5mm jack Yes, check quality
 - DNSe (Digital Natural Sound Engine)
Memory Phonebook 2000 contacts, Photocall
Call records Yes
Internal 200 MB
Card slot microSD, up to 16GB, buy memory
Data GPRS Class 10 (4+1/3+2 slots), 32 - 48 kbps
EDGE Class 10, 236.8 kbps
3G HSDPA 3.6 Mbps
WLAN Wi-Fi 802.11 b/g
Bluetooth Yes, v2.1 with A2DP
Infrared port No
USB Yes, microUSB v2.0
Camera Primary 3.15 MP, 2048x1536 pixels, check quality
Features Geo-tagging, smile detection
Video Yes, QVGA@15fps
Secondary Yes, CIF
Features Messaging SMS, MMS, Email, Push Email, Palringo IM
Browser WAP 2.0/xHTML, HTML
Radio Stereo FM radio with RDS; FM recording
Games Yes + downloadable
Colors Black
GPS Yes, with A-GPS support
Java Yes, MIDP 2.0
 - Social networking integration with live updates
- Google Maps 3.0
- Image editor
- MP3/WMA/eAAC+ player
- MP4/H.263/H.264 player
- Organizer
- Voice memo
- Predictive text input
Battery   Standard battery, Li-Ion 1000 mAh
Stand-by Up to 760 h (2G) / Up to 450 h (3G)
Talk time Up to 9 h 40 min (2G) / Up to 4 h 50 min (3G)
Misc SAR EU 1.02 W/kg (head)    
     Kūgo has long dark hair that he keeps combed back, down to the nape of his neck. He is tall and wears dark trousers and a light T-shirt, over which he wears a dark jacket that has a fur-covered collar. He also wears a thin chain necklace that has an X-shaped pendant attached to it.

HISTORY ABOUT HIM : 
Some time ago, Kūgo became the first substitute Shinigami. However, he gave up the position and disappeared.[4] Sometime later, Kūgo joined Xcution along with other humans with Fullbring abilities under the leadership of Shūkurō Tsukishima. Their aim was to rid themselves of their powers and Tsukishima came up with the plan to pass them onto someone who was both part Human and part Shinigami. However, when this process began, Tsukishima changed his mind and slaughtered the Substitute Shinigami and anyone who had given him their powers. Kūgo subsequently took the Substitute Shinigami's badge. Sometime after this, Kūgo became the leader of Xcution as the group continued its search for another candidate to pass their powers onto.[5]
 

Bleach Wiki

Fullbring is a special ability which certain Humans are born with, in which they can manipulate the "soul" of matter for a variety of effects. Fullbringers each have a parent who was attacked by a Hollow before they were born. Traces of the Hollows' powers remained in their mothers' bodies, which were then passed onto them when they were born. Thus, the powers resemble those of Hollows more than they resemble those of Shinigami's.[1]
Unlike other powers, the Fullbring abilities do not and cannot change through growth. However, Fullbringers must progress to a certain level before they can use their abilities to their fullest.[2] As such, the Fullbring of a user that has not reached such a level appears to be different, and can be considered "incomplete".[3] When the Fullbring reaches its full potential and evolves to their final stage, it will emit a violent burst of energy that can damage the user's body. Therefore, another Fullbring user is required to oversee the process in order to block the explosion and prevent the recently complete Fullbring from damaging its user.

Ichigo looks like a normal teenage boy; the one exception to that is his spiky orange hair, a trait that he has been ridiculed about for years. He is a fairly tall, lean-built person with peach skin and brown eyes. He has a tendency to wear shirts patterned with the number 15, because his name is a homonym for the number . Since becoming a Shinigami, he has become noticeably more muscular, as noted by his sister Karin. When in his spiritual form, Ichigo wears standard Shinigami attire with the addition of a strap across his chest. Initially, it was a thick brown belt to hold his Zanpakutō sheathe, but it later became a red rosary-like strap. The shape of them is a kite with a flat top and bottom. Ichigo's appearance has caused several people, including Jūshirō Ukitake, to notice a similarity to Kaien Shiba; the former lieutenant of the 13th Division After training in the Dangai, Ichigo's hair grows considerably and is noticeably taller, as stated by his friends. However, after Ichigo loses all his spiritual powers, his appearance reverts to the way it was before his Dangai training
A year and a half later, unlike his friends, Ichigo's appearance does not change beyond growing taller. After regaining his powers, Ichigo’s Shinigami attire also consists of a thicker strap across his chest. He also has four black vertical lines on his forearms and black bands with white ends crossing over his chest, wrists, and ankles. Similar bands are around his neck as collars and covering his forearms. Kugo speculated these changes are influenced from Ichigo's Fullbring.